Minggu, 13 Mei 2012

Kisah para pendaki dari Gunung Salak

  • Perempuan Cantik dan Perempuan Tua di Gunung Salak Perempuan Cantik dan Perempuan Tua di Gunung Salak
TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah pendaki dan tim SAR yang ikut dalam pencarian Pesawat Sukhoi di Gunung Salak mempunyai pengalaman cerita magis. Mulai dari melanggar larangan memetik bunga hingga mimpi bersenggama dengan perempuan cantik.
Seorang yang tergabung dalam sebuah regu pada tim yang pertama kali diterjunkan ke Gunung Salak menceritakan pengalamannya saat berada pada ketinggian 1.700 kaki, pos terakhir tak jauh dari titik kordinat pesawat jatuh, Sabtu dinihari, 12 Mei. Ia dan sekitar sembilan anggota regu lainnya bermimpi aneh saat sedang tertidur.
"Kami mimpi basah secara bersamaan," kata dia.
Anehnya, dia melanjutkan, mimpi seluruh anggota regu cukup identik. Awalnya mereka bermimpi disambut seorang wanita cantik pada sebuah rumah di puncak gunung tersebut. "Perempuan itu menyuguhi kami air minum," kata dia bercerita.
Tak lama berselang, mereka langsung diminta untuk istirahat. Tetapi di dalam rumah, ternyata ada banyak perempuan yang tak kalah cantiknya dengan yang menyambutnya tadi. Setelah itu, para perempuan itu mencumbu mereka selayaknya suami istri.
Namun ia mengaku tak heran dengan peristiwa tersebut karena Gunung Salak terkenal dengan kisah magisnya. "Yah, kami memaklumi saja."
Cerita lain dari seorang pendaki yang pernah menjelajahi Gunung Salak. Kini ia bergabung dengan tim SAR sebagai sukarelawan pencari korban Sukhoi. Menjelang pendakian, ia banyak berkonsultasi dengan masyarakat yang berada di sekitar gunung tersebut. "Banyak pantangannya," ujarnya.
Ia mengaku pernah menghiraukan pantangan penduduk untuk tidak mengambil bunga anggrek saat mendaki beberapa bulan lalu ke Gunung Salak. Maklum, kata dia, di sana banyak anggrek berbagai jenis yang cukup indah.
Tapi apa yang terjadi. Timnya tersesat saat ingin pulang. Sepanjang hari mereka hanya berputar di puncak Salak secara berulang sampai malam hari.
Anggrek itu pun di simpan di salah satu tempat, timnya kemudian shalat Isya. Setelah salat timnya kembali melanjutkan perjalanan pulang. "Ternyata jalan pulang hanya ditutupi ranting padahal kami sudah beberapa kali lewat di depan ranting itu," ujarnya seraya menggeleng kepala.
Ia juga mengaku bertemu seorang nenek-nenek berusia sekitar 80 tahun di puncak gunung tersebut. Perempuan tua yang sudah bungkuk itu berjalan sendirian di sebuah padang dengan hanya memakai pakaian tipis.
"Kami tanya mau ke mana Nek, dia bilang hanya jalan-jalan," kata dia menirukan pernyataan nenek tersebut.
Saat ditanyai di mana tempat tinggalnya, wanita tua itu hanya menjawab,"Di sini Nak." Nenek itu menolak di antar ke kaki gunung. Pendaki ini melanjutkan, perempuan tua itu lalu bilang, "Saya senang di sini karena ramai bila malam, mereka sering kasih saya makan," tanpa menyebutkan siapa mereka yang dimaksud.
Yang mengherankan lagi, kata pendaki itu, si Nenek berbahasa Jawa kental, padahal mayoritas masyarakat di kaki gunung berbahasa Sunda. "Kami pun meninggalkan nenek itu sendirian," ujarnya.

Mengemudi Sambil Tonton TV akan Dihukum di Korsel

Ilustrasi lalu lintas (Foto: Thinkstock) 
Seoul (AFP/ANTARA) - Kepolisian Korea Selatan mengatakan pada Jumat bahwa mereka akan mengusulkan undang-undang baru untuk menjatuhi hukuman terhadap supir yang menonton televisi menyusul kemarahan publik atas kematian tiga orang pengendara sepeda pada pekan lalu.

Meski hukum telah melarang supir untuk menonton televisi mobil di dashboard saat mengemudi namun tidak ada hukuman yang spesifik.

Kepolisian mengatakan bahwa peraturan baru akan segera diajukan kepada parlemen.

"Ada kesepakatan umum bahwa sopir yang menonton TV ... harus dihukum", kata Badan Kepolisian Nasional dalam sebuah pernyataan.

Seorang supir truk menewaskan tiga pengendara sepeda profesional perempuan dalam kecelakaan di Euiseong, 330 kilometer sebelah tenggara Seoul pada Selasa lalu.

Supir mengaku sedang menonton televisi pada saat itu. Ia ditangkap karena saat mengemudi sambil menonton televisi, hal ini sangat berbahaya.

Kepolisian mengatakan ada banyak supir yang menonton televisi saat mengemudi, dan penduduk mengatakan beberapa sopir taksi Seoul merupakan penyebab utama.

Data resmi menunjukkan 5.505 orang tewas dalam 226.878 kecelakaan mobil pada 2010 di Korea Selatan.

Bahaya Tinggal di Dekat Jalan Raya

  • Bahaya Tinggal di Dekat Jalan RayaBahaya Tinggal di Dekat Jalan Raya
Ghiboo.com - Biasanya, banyak orang membeli rumah yang dekat dengan jalan raya untuk memudahkan akses pergi ke mana-mana. Sayangnya, tinggal di rumah yang dekat dengan jalan utama ternyata mengancam kesehatan. Terutama bagi Anda yang pernah terkena serangan jantung.

Para peneliti dari Beth Israel Deaconess Medical Center di Boston menemukan bahwa orang yang telah selamat dari serangan jantung, lalu tinggal kurang dari 100 meter dari jalur lalu lintas berisiko kematian 27 persen lebih tinggi dalam 10 tahun dibandingkan dengan yang tinggal paling tidak 1.000 meter dari jalur lalu lintas.

Peneliti menambahkan, bagi mereka yang tinggal antara 200-1.000 meter dari jalur lalu lintas risiko kematiannya menurun 13 persen dari yang 100 meter.

Para peneliti menjelaskan bahwa selain masalah polusi, paparan kebisingan juga menjadi faktor pemicu meningkatnya risiko tersebut.

"Tinggal di rumah yang dekat dengan jalan raya dikaitkan dengan masalah kardiovaskular. Selain karena polusi udara, paparan kebisingan juga bisa menjadi penyebab yang mendasari hubungan ini," jelas penulis utama Dr Murray Mittleman, dikutip melalui Dailymail (11/5).

Penelitian yang melibatkan 3500 penderita serangan jantung yang selamat di 64 rumah sakit menunjukkan, 1.071 kematian selama 10 tahun. Dari total tersebut 63 persen pasien meninggal karena penyakit kardiovaskular, 12 persen karena kanker dan 4 persen karena penyakit pernapasan.

Sir Alex sindir keberhasilan City

Getty Images/Clive Mason 
Kendati mengakui kepantasan Manchester City keluar sebagai kampiun Liga Primer Inggris musim ini serta menghaturkan selamat atas keberhasilan mereka, Sir Alex Ferguson mengatakan akan butuh waktu sekurangnya 100 tahun bagi The Eastlands untuk menyetarakan catatan historis Manchester United yang bergemilang sukses.
City, yang dijuluki oleh Sir Alex sebagai “tetangga berisik”, memastikan raihan titel liga perdana dalam 44 tahun usai menggebuk Queens Park Rangers 3-2, Minggu (13/5). Hasil tersebut membuat kemenangan United 1-0 di markas Sunderland pada saat bersamaan jadi tak berarti karena mereka inferior dalam selisih gol.
“Atas nama Manchester United, saya ingin menyampaikan selamat kepada tetangga kami. Sebuah pencapaian fantastis dapat memenangi liga ini,” kata kakek 70 tahun asal Skotlandia itu kepada MUTV.
“Sejarah kami yang kaya membedakan kami, itu lebih baik dari siapa pun. Akan butuh seabad buat City untuk mendapatkan level sejarah seperti kami.”
Sang manajer pun yakin kegagalan pada musim ini bisa menjadi pelajaran berharga untuk skuad The Red Devils saat ini, yang dihiasi banyak pemain muda, agar lebih baik di masa datang.
“Para pemain muda ini akan mengingat hari ini. Terkadang pengalaman buruk lebih baik untuk Anda. Anda tak boleh takut masa depan dan para pemain ini tak akan demikian.”
“Kami memiliki tantangan, tapi kami bagus menghadapi tantangan dan kami akan memulai dari sini,” tandas Ferguson.

Duta Besar Jepang Tantang Mobil Esemka Diproduksi Massal

  • Duta Besar Jepang Tantang Mobil Esemka Diproduksi Massal  Duta Besar Jepang Tantang Mobil Esemka Diproduksi Massal  
TEMPO.CO, Surakarta - Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yoshinori Katori benar-benar penasaran dengan mobil Esemka. Mobil rakitan siswa sekolah menengah kejuruan di Surakarta tersebut membuatnya rela meluangkan waktu untuk datang ke Surakarta.
Dia bahkan menantang agar Esemka segera diproduksi massal dan bisa dijual hingga ke mancanegara. »Kapan diekspor ke Jepang?” kata Yoshinori Katorinya, Jumat, 11 Mei 2012 pagi tadi.
Pagi ini saat berkunjung ke Solo Techno Park, tempat para siswa SMK merakit mobil-mobil Esemka seperti jenis sport utility vehicle (SUV) dan pick up, Yoshinori hanya didampingi salah seorang stafnya.
Begitu tiba di Solo Techno Park, dia langsung mencoba Esemka SUV warna hitam. Masuk ke ruang kemudi, mesin dinyalakan. Menurut dia, suara mesin Esemka halus. »Waktu duduk, nyaman sekali,” dia memuji.
Dia juga memuji setir Esemka yang dianggapnya membuat Esemka semakin nyaman dikendarai. Namun dia mengaku tidak tahu apa beda antara mobil buatan Jepang dan Esemka yang hasil rakitan siswa SMK di Solo.
Setelah mencoba, dia berkeliling ke lokasi perakitan mobil. Dia memuji anak-anak muda di Solo dan Indonesia yang tertarik mendalami permesinan. »Dengan memiliki fasilitas dan sistem pelatihan seperti ini, menunjukkan anak muda di Solo dan Indonesia punya industri yang penting di dalam negeri,” katanya.
Dia bahkan menantang agar Esemka segera diproduksi massal dan bisa dijual hingga ke mancanegara. »Kapan diekspor ke Jepang?” katanya.
Dia berharap kegiatan di atas terus dikembangkan. Anak-anak muda di Indonesia diminta untuk terus berusaha keras mendalami dan memahami teknik otomotif. »Sehingga bisa berkontribusi untuk negara,” ujarnya.
Direktur Pelayanan dan Pengembangan Solo Techno Park Gampang Sarwono mengatakan saat ini Esemka sedang dalam tahap akhir persiapan uji emisi. Dia menyebut teknisi sedang membenahi performa mesin.
»Dari uji emisi mandiri terakhir, diketahui bahwa untuk emisi sudah berkurang. Tapi tenaganya juga ikut berkurang,” dia menerangkan.
Untuk itu, tim sedang mengganti saluran gas buang dan menggeser lokasi inverter mendekat ke mesin agar bisa bekerja lebih maksimal. »Minggu depan perbaikan selesai dan kembali uji emisi mandiri. Jika sukses, siap uji emisi ulang di Jakarta,” katanya.